HATI MEREKA TERTUTUP, TELINGA MEREKA TERSUMBAT, TIDAK MAU MEMAHAMI DAN MENDENGARKAN KEBENARAN (AL-QURAN)

diterbitkan oleh dalam

Firman Allah Ta’alaa:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِۦ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِىَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِن تَدْعُهُمْ إِلَى ٱلْهُدَىٰ فَلَن يَهْتَدُوٓا۟ إِذًا أَبَدًا ۝

Artinya: Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. (QS. Al-Kahfi: 57)

Hati yang Tertutup dari Hidayah Al Quran
Hati yang Tertutup dari Hidayah Al Quran image by Rachid Oucharia on Unsplash

Dalam Tafsir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menafsirkan bahwa Allah memberitahukan bahwa tidak ada tindakan kezhaliman yang paling fatal dan kejahatan yang paling besar, dari seseorang hamba yang sudah diingatkan dengan ayat-ayat Allah dan dijelaskan kepadanya kebenaran dari kebatilan, petunjuk dari kesesatan, ditakut-takuti, diperingatkan dan dianjurkan (dengan balasan baik), akan tetapi dia berpaling muka darinya, tidak sudi mengambil pelajaran dari peringatan yang diarahkan kepadanya, serta meninggalkan kebiasaan lamanya “dan melupakan sesuatu yang dikerjakan oleh kedua tangannya,” yang berupa dosa-dosa. Ini lebih besar kezhalimannya daripada orang yang berpaling tapi memang belum pernah didatangi ayat-ayat Allah dan belum diperingatkan dengannya –meskipun orang ini juga telah berbuat zhalim- akan tetapi orang tadi lebih dahsyat kezhalimannya daripada orang ini, karena dia melanggar atas dasar pengetahuan dan ilmu, dan lebih besar (kezhalimannya) dibandingkan orang yang keadaannya tidak demikian. Allah menghukumnya lantaran berpaling dari ayat-ayatNya dan melupakan dosa-dosanya, serta tenang dengan dirinya dalam kondisi buruk, padahal mengetahuinya, dengan hukuman menutup pintu-pintu hidayah baginya, dalam bentuk meletakkan tutup (akinnah) di atas hatinya yaitu penutup-penutup kuat yang menghalanginya untuk memahami ayat-ayat Allah meskipun dia mendengarnya. Tidak mungkin dia bisa mengusahakan pemahaman yang sanggup menembus hatinya.

Dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka,” maksudnya ketulian yang mengganjal mereka untuk sanggup mencapai ayat-ayat dan mendengarkannya guna mencari manfaat. Bila kondisi mereka semacam ini, maka tidak ada jalan hidayah bagi mereka. “Dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya,” karena orang yang diharapkan menyambut keterangan dari penyeru adalah orang yang tidak berilmu. Sementara mereka yang telah mengetahui kemudian membutakan diri, melihat jalan kebenaran, lantas mereka tinggalkan, (dan melihat) jalan kesesatan justru mereka tempuh, maka Allah menimpakan hukuman atas mereka dengan mengunci hati-hati mereka dan mematrinya. Tidak ada rekayasa dan jalan untuk memberi hidayah kepada mereka lagi. Dalam ayat ini, terdapat takhwif (menakut-nakuti) bagi orang yang meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya berupa dihalanginya antara dia dengan hidayah, dan sudah tidak mungkin lagi setelah itu ada kejadian yang lebih menakutkan dan membuatnya jera dari kesesatannya.

Menurut Ibnu ‘Asyur dalam al-Tahrir wat Tanwir, ayat ini ditujukan secara khusus untuk orang-orang musyrik Mekah. Orang musyrik Mekah itu selalu mendebat Nabi Muhammad dengan tujuan menjatuhkan, mengolok-olok peringatannya, dan enggan menerima kebenaran darinya. Bahkan mereka menyebut bahwa Nabi itu orang gila, tukang sihir, dan penyair pembual. Mereka itu orang yang paling zalim, karena membohongi hati nuraninya sendiri.

Orang-orang musyrik itu melupakan perbuatan maksiat yang sudah mereka lakukan. Pada umumnya, menurut Ibnu ‘Asyur, penggunaan redaksi ma qoddamat yadah ‘perbuatan yang telah dilakukan kedua tangannya’, dzalika bima qoddamat yadaka ‘hal itu sebab perbuatan yang telah dilakukan kedua tanganmu’, fabima kasabat aidikum ‘sebab perbuatan tangan kalian’ dan redaksi sejenisnya dalam bahasa Al-Qur’an itu mengindikasikan perbuatan buruk yang telah dilakukan.

Mungkin ada yang bertanya, pantas mereka terus enggan menerima kebenaran, wong Allah sendiri menutup hati dan menyumpal telinga mereka seperti dalam redaksi ayat Inna ja‘alna ‘ala qulubihim akinnatan ay yafqohuhu wa fi adzanihim waqro ‘Kami itu benar-benar telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka’?

Syekh Mutawalli al-Sya‘rawi menjawab hal itu. Menurutnya, Allah itu akan memberikan sesuatu sesuai kecenderungan dan keinginan hamba-Nya. Orang-orang musyrik Mekah enggan menerima kebaikan, dan terus menerus merasa angkuh, sehingga hati mereka cenderung mendekati hal-hal buruk tersebut. Oleh karena itu, Allah memberikan sesuai kecenderungan mereka, dan mereka tidak akan pernah mendapatkan hidayah kalau tidak mencarinya sendiri.

Juga firman Allah Ta’alaa:

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا وَلَّىٰ مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِىٓ أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ۝

Artinya: Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih (QS. Luqman: 7)

Dalam Tafsir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menyatakan bahwa maka dari itu Allah berfirman, ”dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami,” supaya dia beriman dan tunduk patuh kepadanya, “dia berpaling dengan menyombongkan diri,” maksudnya, dia berpaling kebelakang dengan menyombongkan diri terhadapnya dan menolaknya, dan ayat-ayat itu tidak bisa masuk kedalam hatinya dan tidak pula berpengaruh padanya, akan tetapi ia membelakanginya, “seolah-olah dia belum mendengarnya,” bahkan, “seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya,” maksudnya, penutup hingga tidak ada suara yang bisa memasukinya. Orang seperti ini sama sekali tidak ada jalan untuk memberinya petunjuk. “maka berilah dia kabar gembira,” dengan sutau kabar gembira yang bisa membuat di dalam hatinya rasa sedih dan duka, dan pada raut wajahnya keburukan, kegelapan dan kemuraman, “dengan azab yang pedih,” menyakitkan hati dan badannya, yang tidak dapat diukur kadarnya dan tidak dapat diketahui betapa hebat siksaan itu. Ini adalah berita gembira untuk para pelaku kejahatan. Sungguh berita gembira seperti itu samasekali tidak ada kenikmatannya

Allah Ta’alaa juga berfirman:

وَإِذَا قَرَأْتَ ٱلْقُرْءَانَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱلْءَاخِرَةِ حِجَابًا مَّسْتُورًا ۝ وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِى ٱلْقُرْءَانِ وَحْدَهُۥ وَلَّوْا۟ عَلَىٰٓ أَدْبَٰرِهِمْ نُفُورًا ۝

Artinya: Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya (QS. Al-Isra’: 45-46).

Menurut Qatadah dan Ibnu Zaid, yang dimaksud dengan hijaban masturan ialah berupa penutup yang menutupi hati mereka. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:Mereka berkata, “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutup) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding.” (Fushshilat: 5), yakni dinding yang menghalang-halangi apa yang kamu ucapkan untuk dapat sampai kepada kami.

Allah mengabarkan tentang hukuman bagi para pendusta kebenaran, yaitu orang-orang yang menampik dan memalingkan diri dari kebenaran, bahawasanya Allah menghalangi keimanan (dari hati mereka). Allah berfirman, “Dan apabila kamu membaca al-Quran,” yang bermuatan pelajaran, peringatan, petunjuk iman, kebaikan, dan ilmu yang melimpah “niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup,” yang betul-betul menghalangi mereka untuk memahami al-Quran, meneliti hakikatnya dan tunduk kepada kebaikan yang diserukannya (Tafsir as-Sa’di/Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Firman Allah Swt:“Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka”, Akinnah bentuk jamak dari kinan, artinya selaput yang menutupi hati.Agar mereka tidak dapat memahaminya.Yakni agar mereka tidak dapat memahami Al Qur’an.dan sumbatan di telinga mereka. Yaitu sumbatan yang menghalang-halangi mereka dapat mendengar Al-Qur’an dengan pendengaran yang dapat memberikan manfaat dan hida­yah kepada mereka.

Firman Allah Swt.: Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an, artinya, bilamana kamu esakan nama Tuhanmu dalam bacaan Al-Qur’anmu dan kamu katakan, “Tidak ada Tuhan selain Allah.”Niscaya mereka berpaling. Nufur adalah bentuk jamak dari nafir (berpaling).

Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka,” maksudnya penutup yang membuat mereka tidak bisa mencerna al-Quran, padahal mereka mampu mendengarnya (dengan telinga mereka) dengan jelas, sehingga hujjah telah tegak atas mereka. “Dan sumbatan di telinga mereka,” maksudnya ketulian untuk menyimaknya. “Dan apabila kamu menyebut Rabbmu saja dalam al-Quran,” dalam rangka menyerukan keesaan Allah dan melarang dari perbuatan syirik.“niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya,” karena sangat besarnya antipati mereka terhadap seruanmu dan kecintaan terhadap kebatilan mereka selama ini. (Tafsir as-Sa’di/Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di).

Firman Allah Ta’alaa:

وَمِنْهُم مَّن يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِن يَرَوْا۟ كُلَّ ءَايَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا۟ بِهَا حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوكَ يُجَٰدِلُونَكَ يَقُولُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِنْ هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ ۝

Artinya: Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.

(QS. Al-An’am: 25)

Ayat di atas mengandung arti bahwa mereka berdatangan untuk mendengarkan bacaanmu, tetapi hal itu tidak ada manfaatnya barang sedikit pun bagi mereka, karena Allah Swt. telah meletakkan tutupan di atas hati mereka hingga mereka tidak dapat memahami Al Qur’an. Dan Allah meletakkan sumbatan pada telinga mereka sehingga mereka tidak dapat mendengarkan hal yang bermanfaat bagi diri mereka, seperti yang diungkapkan oleh Allah Swt. dalam ayat lainnya:

وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ كَمَثَلِ ٱلَّذِى يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَآءً وَنِدَآءً صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ ۝

Artinya: Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS. Al-Baqarah: 171)

Tinggalkan komentar

seven + sixteen =

%d blogger menyukai ini: