Karakter Orang Beriman Dan Orang Kafir

Oleh dalam

Surat Al-Baqarah Ayat 26

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ [٢:٢٦]

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”

Jika pada ayat sebelumnya telah dijelaskan tentang balasan buruk bagi orang yang enggan beriman kepada Allah serta balasan baik bagi orang yang beriman kepada-Nya, maka pada ayat ini Allah ingin memberikan gambaran kepada kita tentang karakteristik orang beriman maupun orang kafir dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan (amtsāl) yang sederhana, seperti perumpamaan dengan nyamuk betina (ba’ūdlah).

Salah satu metode Al-Qur’an memberikan pelajaran kepada umat manusia, adalah dengan membuat perumpamaan-perumpamaan yang dalam bahasa Arab disebut amtsāl  ( أمثال ), jamak dari matsal (مثل). Salah satu jenis perumpamaan di dalam Al-Qur’an adalah perumpamaan menggunakan binatang, baik binatang kategori vertebrata maupun invertebrata. Vertebrata adalah binatang yang mempunyai tulang belakang seperti anjing dan keledai. Sedangkan invertebrata adalah binatang yang tidak mempunyai tulang belakang seperti laba-laba, lalat dan nyamuk.

Perumpamaan menggunakan binatang vertebrata adalah sebagai berikut:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ [٧:١٧٦]

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. (Q.S. Al-A’raf [7]: 176)

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [٦٢:٥]

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim”(Q.S. Al-Jumu’ah [65]: 5)

Perumpamaan menggunaan binatang invertebrata adalah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ [٢٢:٧٣]

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah”(Q.S. Al-Hajj [22]: 73)

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ [٢٩:٤١]

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui”(Q.S. Al-‘Ankabut [29]:41)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah swt. membuat perumpamaan dengan menggunakan anjing, keledai, lalat dan laba-laba. Orang-orang Yahudi menganggap rendah dan tidak bernilai perumpamaan yang ada dalam Al-Qur’an karena menggunakan sesuatu yang tidak berarti, apalagi sampai membuat perumpamaan dengan menggunakan binatang kecil seperti nyamuk dan laba-laba. Menurut Ibn Abbas, karena ada penilaian rendah dari Yahudi itulah turun surat Al-Baqarah ayat 26 ini. Dengan tegas Allah swt. menyatakan bahwa Dia tidak malu membuat perumpamaan dengan sesekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu.

Nyamuk adalah serangga yang terdiri dari 41 genus dan 3530 spesies. Nyamuk mempunyai dua sayap bersisik, tubuh yang langsing dan enam kaki panjang. Ukuran nyamuk berbeda-beda, tetapi jarang sekali melebihi 15 mm. Dalam kebanyakan nyamuk betina, bagian mulut membentuk proboscis panjang untuk menembus kulit mamalia untuk menghisab darah. Nyamuk betina memerlukan protein untuk pembentukan telur. Nyamuk betina tidak menemukan protein dalam makanannya, oleh sebab itu mereka mencarinya dengan menghisab darah manusia. Hanya nyamuk betina saja yang menghisab darah, sedangkan nyamuk jantan tidak karena tidak membutuhkan protein seperti nyamuk betina. Bahkan mulut nyamuk jantan tidak dapat menghisab darah. Oleh sebab itu di dalam ayat yang dibahas disebutkan ba’­dhah (بَعُوضَةً), artinya nyamuk betina.

Orang-orang kafir menganggap rendah membuat perumpamaan dengan binatang kecil seperti nyamuk dan lalat. Padahal sebenarnya dalam percakapan sehari-hari orang-orang Arab juga mengenal perumpamaan dengan nyamuk. Misalnya mereka menggunakan ungkapan أَضْعَفُ مِنْ بَعُوْضَةٍ  (lebih lemah daripada nyamuk) dan أَعَزُّ مِنْ مُخِّ بَعُوْضَةٍ  (lebih mulia dari otak nyamuk). Jadi penolakan mereka sebenarnya tidak berdasarkan argumen yang jelas, hanya sekadar keingkaran dan kedurhakaan belaka. Jika membuat perumpamaan dengan menggunakan binatang kecil seperti nyamuk dan lalat dianggap rendah, kenapa mereka menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

Walaupun orang-orang kafir menggap rendah binatang kecil yang disebut oleh Allah di dalam Al-Qur’an, tetapi kajian sains pada hari ini menemukan bahwa penciptaan binatang kecil seumpama nyamuk sebenarnya menunjukkan kehebatan Allah swt. dalam penciptaan. Sebagai contohnya nyamuk kecil mempunyai sistem radar yang hebat, walau dalam keadaan malam yang gelap sekalipun, ia dapat mencapai sasarannya secara tepat yaitu manusia yang sedang terlelap tidur. Bukan hanya itu, nyamuk dapat menganalisi darah yang dihisapnya, ia hanya menghisap darah yang disukainya saja, dan sekiranya ia tidak menyukainya darah yang ada pada manusia yang dihinggapinya, nyamuk akan pergi meninggalkannya dan mencari mangsa yang lain. Oleh sebab itu banyak kajian yang telah dibuat tentang nyamuk dan banyak penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi umat manusia. Bahkan melalui kajian terhadap hewan inilah Sir Ronald Ross (1857-1932) memperoleh hadiah Nobel dalam bidang fisiologi dan perobatan pada tahun 1902. Ross meneliti tentang penyakit malaria selama 18 tahun (1881-1889) dan berhasil membuktikan bahwa penyakit malaria dibawa oleh sejenis nyamuk yang dikenal dengan sebutan nyamuk Anopheles.

Seperti diungkap di atas, dalam ayat disebutkan ba’­dhah (بَعُوضَةً), artinya nyamuk betina. Banyak orang mengira nyamuk jantan dan betina sama-sama menghisap darah manusia. Anggapan ini ditolak oleh ilmu pengetahuan, karena yang menghisap darah manusia hanyalah nyamuk betina, tidak nyamuk jantan. Nyamuk betina menghisap darah bukan untuk makanan mereka, karena baik nyamuk jantan maupun betina kedua-duanya hidup dengan memakan nectar, yaitu cairan manis yang disekresikan oleh bunga tanaman (sari madu bunga). Satu-satunya alasan kenapa nyamuk betina, dan bukan jantan yang menghisab darah adalah karena darah mengandungi protein yang diperlukan untuk perkembangan dan pertumbuhan telur nyamuk. Dengan kata lain, nyamuk betina menghisab darah untuk mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya.

Dalam ayat jelas tampak perbedaan sikap antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir merespon perumpamaan yang dibuat oleh Allah swt. dengan makhluk serangga kecil seperti nyamuk atau yang lebih kecil lagi dari itu. Orang-orang yang beriman menerima sepenuhnya. Mereka tahu bahwa itu adalah kebenaran yang datang dari Tuhan mereka. Tetapi bertolak belakang dengan sikap orang-orang yang beriman, orang-orang kafir malah mempertanyakannya. Apa maksud Allah membuat perumpamaan dengan binatang hina seperti nyamuk ini? Perumpamaan dibuat untuk membuat sesuatu lebih mudah dipahami. Sebenarnya orang-orang kafir cukup paham apa maksud perumpamaan tersebut, tetapi mereka sengaja mempertanyakannya, pura-pura tidak memahaminya hanya karena kesombongan dan kedurhakaan mereka semata. Dengan perumpamaan ini orang-orang beriman bertambah mendapat petunjuk, sementara orang-orang kafir semakin sesat jalan.  Tidak ada yang disesatkan oleh Allah melalui perumpamaan ini kecuali orang-orang yang fasik. Siapakah orang-orang yang fasik itu?

sumber : Suara Muhammadiyah

Tinggalkan komentar

8 − seven =

%d blogger menyukai ini: