Membangun Badan Usaha Milik Masjid (BUMM)

diterbitkan oleh dalam ,

MASJIDRAYAALFALAH.OR.ID – Akhir tahun adalah momentum untuk refleksi, baik refleksi diri maupun organisasi kerja. Tentu sudah banyak pencapaian yang telah diraih, namun bisa jadi ada beberapa hal yang belum bisa terealisasi atau ada target yang belum tercapai seratus persen. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi baru untuk mewujudkan mimpi di tahun yang akan datang (2020). Capaian kerja yang sudah terlaksana bisa diteruskan dan dikembangkan untuk periode berikutnya, pun prestasi kerja yang berupa amal shaleh yang bersifat permanen (Wakaf, berbagi ilmu dan lain-lain) akan menjadi Legacy kita untuk menutup akhir tahun ini (2019). Barangkali kita sudah lupa apa yang kita dermakan, tetapi pahala dan manfaatnya masih bisa dirasakan orang banyak.
Buya Hamka berkata “Nama baik adalah umur kedua manusia”. Sejalan dengan ungkapan tersebut bahwa amal shaleh yang kita lakukan akan terus memberi manfaat kepada orang lain. Bisa jadi manusia yang melakukan kebaikan sudah meninggal, namun kebaikan itu melimpahkan berkah dan menuntun manusia dari satu kebaikan kepada kebaikan lainnya.
Refleksi diri bisa dilakukan dengan dzikir, muhasabah dan menambah keilmuan, namun refleksi organisasi kerja hanya bisa dilakukan dengan evaluasi dan konsolidasi. Impian dan rencana kerja satu tahun ke depan akan mudah terukur jika ada alat (tools) yang disepakati bersama. Pekerjaan yang sukses adalah pekerjaan yang pencapaiannya terukur. KPI (Key Performa Indicator) adalah salah satu intsrumen yang bisa digunakan untuk mengukur suatu rencana kerja satu tahun ke depan. Dengan menentukan tujuan (Goal) di awal dan diturunkan (Breakdown) dengan standar yang baik, maka hasil akhir akan sesuai dengan ekpektasi bersama.
Takmir masjid raya al-falah kabupaten sragen dalam satu periode kerja telah berhasil mengantarkan masjid berserta jamaah kepada tujuan yang hendak dicapai, tentu di sana masih ada kekurangan dan kelemahan yang harus terus diperbaiki. Ruang rapat menjadi satu wadah untuk mempertemukan ide dan gagasan baru dalam pemakmuran masjid. Takmir masjid berupaya meneladani pribadi agung Nabi Ibrahim, Allah Swt berfirman :
{رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (83) وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ (84) وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (85)
(Ibrahim berdoa), “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan. (Asy-Syu’ara ; 83 – 85)
Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan hikmah ialah ilmu. Sedangkan maksud doa yang kedua (ayat 84) adalah jadikanlah aku seorang yang menjadi buah tutur yang baik sesudahku yang selalu diingat dan dianuti dalam kebaikan.
Di antara anugerah indah bagi seorang mukmin adalah Allah mengkaruniakan kepadanya ilmu (hikmah) dan dikumpulkan dalam golongan orang-orang shalih. Jadi untuk membangun peradaban umat dibutuhkan para kader yang memiliki ilmu dan komunitas yang bisa menampung ide untuk kemudian diimplementasikan dalam sebuah amal nyata. Di dunia ia menjadi manusia yang bermanfaat terhadap orang lain dan di akhirat ia mendapatkan balasan surge yang penuh kenikmatan.
Di dunia ini ada dua tempat yang paling banyak dikunjungi oleh kaum muslimin seluruh dunia, yakni Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad adalah peletak dasar kedua bangunan tersebut, bangunan tersebut menjadi warisan yang mengalirkan kebaikan dan keberkahan yang luar biasa. Kini, di kawasan dua masjid itu dibuat berbagai amal-amal shaleh sebagai amal lanjutan dari kedua Nabi di atas.
Rasulullah Saw mewanti-wanti kita agar tidak masuk dalam kategori tiga manusia di bawah ini : Ar-Raqub, Ash – Sha’luk dan Ash – Shari’

، سَمِعْتُ عُرْوة بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الجَعْفِيّ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي حَصْبَةَ، أَوِ ابْنِ حَصْبَةَ، عَنْ رَجُلٍ شَهِدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ: “تَدْرُونَ مَا الرَّقُوبُ؟ ” قَالُوا الَّذِي لَا وَلَدَ لَهُ. قَالَ: “الرَّقُوبُ كُلُّ الرَّقُوبِ الَّذِي لَهُ وَلَدٌ فَمَاتَ، وَلَمْ يُقَدِّمْ مِنْهُمْ شَيْئًا”. قَالَ: “تَدْرُونَ مَا الصُّعْلُوكُ؟ ” قَالُوا: الَّذِي لَيْسَ لَهُ مَالٌ. قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “الصُّعْلُوكُ كُلُّ الصُّعْلُوكِ الَّذِي لَهُ مَالٌ، فَمَاتَ وَلَمْ يُقَدِّمْ مِنْهُ شَيْئًا”. قَالَ: ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا الصُّرَعَةُ؟ ” قَالُوا: الصَّرِيعُ. قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّرَعَةُ كُلُّ الصُّرَعَةِ الَّذِي يَغْضَبُ فَيَشْتَدُّ غَضَبُهُ، وَيَحْمَرُّ وَجْهُهُ، وَيَقْشَعِرُّ شَعْرُهُ، فَيَصْرَعُ غَضَبَهُ”

Aku mendengar Urwah ibnu Abdullah Al-Ju’fi menceritakan dari Abu Hasbah atau ibnu Abu Husain, dari seorang laki-laki yang menyaksikan Nabi Saw. berkhotbah. Maka beliau bersabda: “Tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan ar-raqub?” Kami menjawab, “Orang yang tidak mempunyai anak.” Nabi Saw. bersabda, “Ar-raqub yang sesungguhnya ialah orang yang mempunyai anak, lalu ia mati, sedangkan dia belum menyuguhkan sesuatu pun dari anaknya.” “Tahukah kalian, siapakah sa’luk itu?” Mereka menjawab, “Orang yang tidak berharta.” Nabi Saw. bersabda, “Sa’luk yang sesungguhnya ialah orang yang berharta, lalu ia mati, sedangkan dia belum menyuguhkan barang sepeser pun dari hartanya itu.” Kemudian dalam kesempatan lain Nabi Saw. bersabda: “Apakah arti jagoan itu?” Mereka menjawab, “Seseorang yang tidak terkalahkan oleh banyak lelaki.” Maka Nabi Saw. bersabda, “Orang yang benar-benar jagoan ialah orang yang marah, lalu marahnya itu memuncak hingga wajahnya memerah dan semua rambutnya berdiri, lalu ia dapat mengalahkan kemarahannya.”
Dari hadits di atas dapat dipetik pelajaran agar kita menyiapkan anak-anak keturunan yang taat kepada Allah, memiliki harta dan harta itu memberi manfaat bukan malah menghancurkan kehidupan manusia.
Di awal tahun 2020 nanti , Takmir masjid Al-Falah berupaya untuk menginisiasi pendirian BUMM (Badan usaha milik masjid). Harapan ke depan, masjid ini mampu berdaya dan memberdayakan para jamaah agar bisa lebih sejahtera. Slogan dari masjid kita bangkit menjadi semangat para takmir untuk membangun sinergi keumatan, meningkatkan ekonomi umat dan juga mewujudkan masjid sebagai pilar peradaban utama. Konkritnya, di halaman masjid akan didirikan beberapa kios untuk kegiatan ekonomi jamaah.
Pada tanggal 5 januari 2020 akan dilaunching perdana produk makanan bersamaan dengan kajian ahad pagi, Takmir masjid mengundang seluruh jamaah untuk hadir pada acara tersebut. Takmir juga mengajak jamaah untuk berpartisipasi dalam wakaf produktif program-program keumatan, dimana teknis pelaksanaannya akan disampaikan oleh Takmir masjid.
Semoga Allah mudahkan urusan kita. Amin.

Lutfanudin
Abdi Dalem Masjid Raya Al-Falah Kabupaten Sragen

Tinggalkan komentar

2 × 3 =

%d blogger menyukai ini: