Ragu Terhadap Kehidupan Sesudah Mati

Oleh dalam

Masjidrayaalfalah.or.id – Mereka berkata, apakah betul apabila kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan ?

Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami dahulu telah diberi kabar seperti ini. lni tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala. (Q.S. Almukminun: 82-83)

Itu pernyataan orang-orang yang ragu terhadap adanya hari kebangkitan. Berawal dari ragu akhirnya kufur. Tidak percaya bahwa nanti akan ada hari yang namanya hari kebangkitan. Yaumul ba’ats.

Ini namanya negatif doubt. Ragu yang akhirnya menolak. Itulah yang dilakukan oleh Ubay bin Khalaf.

Suatu hari ia membawa tulang-tulang binatang yang sudah rapuh. Kemudian menunjukkan kepada Rasulullah saw seraya berkata.

Ubay bin Khalaf: “Hai Muhammad. Siapa yang bisa menghidupkan tulang-tulang yang sudah rapuh seperti ini ?”

Muhammad : “Allah yang akan menghidupkan. Lalu akan melemparkannya ke neraka”.

Tokoh quraisy itupun malah semakin tidak percaya dan menentang Rasulullah. Dia akhirnya tewas saat perang uhud. Nabi Muhammad sendiri yang membunuhnya.

Tulang ekor ternyata menjadi kunci kehidupan dan kebangkitan di hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi saw.

عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَأْكُلُهُ التُّرَابُ إِلاَّ عَجْبَ الذَّنَبِ مِنْهُ خُلِقَ وَفِيهِ يُرَكَّبُ ».

Dari Abu Hurairah ra. Berkata, Rasulullah saw bersabda, “setiap anak adam dimakan tanah kecuali tulang ekor. Darinya manusia diciptakan dan dari tulang itu juga nanti dususun kembali. (HR. Muslim)

Dr Usman Aljilli melakukan penelitian di San’a University. Ia membakar tulang ekor dengan suhu sangat tinggi selama sepuluh menit. Bagian tubuh itu menjadi arang. Lalu dibawa ke laboratorium. Ternyata sel-sel tulang ekor itu tidak berubah. Tetap seperti sedia kala.

Sang doktor yang juga dokter itu ingin membuktikan kebenaran sabda Nabi saw dan meyakinkan orang-orang yang masih ragu adanya kehidupan sesudah mati. Tidak ada penjelasan siapa yang ragu kemudian berubah menjadi yakin dengan hasil risetnya. Yang pasti orang beriman semakin yakin kebenaran akan datangnya yaumul ba’ats.

Rukun iman itu ada enam. Tetapi yang sering diberi catatan hanya dua. Iman kepada Allah dan kepada hari akhir. Misal.

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam”. (Bukhari)

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah tidak menyakiti tetangganya” (HR. Bukhari)

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memulyakan tamunya” (HR. Bukhari)

Percaya kepada Allah fundasi aqidah seseorang. Dan percaya kepada hari akhir menjadi penuntun agar hidup hati-hati. Sebab ada kehidupan setelah mati di mana balasan amal di dunia akan diberikan.

Siapa yang berbuat baik seberat biji sawi akan diperlihatkan dan siapa yang berbuat maksiat seberat biji sawi juga akan diperlihatkan.

Imam At Tabari mengatakan. Diperlihatkan itu maksudnya diberi balasan, baik di dunia maupun di akherat.

Manusia ada dua tipe. Ubay bin Khalaf dan Abu Bakar Sidiq. Yang pertama penuh keraguan sedangkan yang yang kedua penuh keyakinan. Yang ragu hidup sembarangan sedangkan yang yakin hidup penuh perhitungan.

Genderang kampanye sudah ditabuh. Pilih nomor satu atau dua akan ada konsekuensinya. Di dunia jelas berdampak di akherat juga tidak bisa lepas.

Orang yang beriman kepada hari kebangkitan akan hati-hati. Tidak main hantam yang penting menang. Sebab ia yakin nanti ada balasannya. Di kehidupannya yang kedua.

Adapun mereka yang ragu. Tak peduli dengan etika dan tatakrama. Menang menjadi tujuan utamanya. Mereka adalah Mechiavelis sejati. Tujuan menghalalkan segala cara. Wallahu’alam

Tinggalkan komentar

seventeen + nine =

%d blogger menyukai ini: